PENGARUH MINAT MELANJUTKAN STUDI
KE SLTA TERHADAP PRESTASI BELAJAR
PAIMIN (NIM P2FB07059)
Minat merupakan pernyataan psikis yang menimbulkan adanya kekuatan kesadaran pemusatan perhatian, kesiapan melakukan kegiatan dan merasa tertarik terhadap obyek sasarannya yang menjadi kecenderungan atau menjadi penguat dalam melakukan suatu aktifitas.
Kegiatan belajar yang dilandasi minat yang tinggi tentu saja intensitas kegiatan itu pun tinggi, sebab kegiatan yang dilakukan benar-benar dilandasi dengan suatu kemauan yang kuat untuk melakukan kegiatan itu, sehingga apa yang diharapkan dari kegiatan itu dapat tercapai.
Bagi para siswa yang tengah duduk di bangku SLTP kelas IX, apa yang diharapkan mereka setelah lulus tentu saja berbeda-beda. Bagi siswa yang tidak ingin melanjutkan sekolah mungkin yang mereka harapkan adalah yang penting lulus. Dengan demikian dorongan untuk meraih prestasi tidak terlalu besar karena untuk dapat lulus tidak harus berprestasi baik, yang penting batas minimal terpenuhi.
Dengan demikian para siswa yang memiliki minat untuk melanjutkan ke SLTA memiliki dorongan yang kuat untuk belajar keras. Dengan harapan dengan belajar sungguh-sungguh akan menghasilkan prestasi belajar yang baik, sehingga mampu berkompetisi dengan para siswa lain dalam perebutan kursi/ bangku di sekolah.
1. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Persianan Hariati (1980 : 15), prestasi belajar adalah penguasaan tehadap bahan atau kurikulum pelajaran dalam pelajaran/ mata kuliah yang telah dipelajari oleh siswa/ mahasiswa.
Menurut Sumardi Suryabrata (1984 : 25), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu latihan pengalaman yang harus didukung suatu kesadaran seseorang siswa untuk belajar.
Menurut Winarno Surakhmad (1983 : 23, menilai prestasi belajar bagi kebanyakan orang berarti ulangan, dan maksud ulangan tersebut untuk memperoleh satu angka induk dalam menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar.
Dari uraian di atas kiranya telah jelas bahwa prestasi belajar menunjuk kepada suatu kemampuan/ hasil yang dicapai siswa setelah melakukan aktivitas belajar.
Selanjutnya mengenai fungsi utama prestasi belajar seperti pendapat Persianan Hariati (1980 : 15), adalah sebagai berikut:
1) Prestasi belajar berfungsi sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak.
2) Prestasi belajar berfungsi sebagai alat pemenuhan keingintahuan.
3) Prestasi belajar berfungsi sebagai kriteria intrnal eksternal sistem persekolahan.
4) Internal tentang prestasi belajar dapat menjadi perangsang dan memancing dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu sebagai umpan balik.
5) Prestasi belajar dapat menjadi indikator daya serap dan keberhasilan.
Untuk mengetahui prestasi belajar seseorang, perlu diadakan penelitian terhadap hasil belajarnya. Dalam pendidikan formal, penelitian sudah mempunyai bentuk dan ukuran tertentu. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh guru dengan memberikan ulangan, ujian atau tes pada periode-periode tertentu baik secara tertulis maupun lisan. Pada umumnya penilaian prestasi belajar dinyatakan dalam bentuk angka, misalnya 1 – 10 dan 1 – 4, tetapi bisa juga tertulis dengan huruf seperti A (sangat baik), B (baik), C (cukup), D (kurang), dan E (sangat kurang).
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.
Prestasi belajar merupakan kemampuan yang dihasilkan dari aktivitas belajar. Dengan begitu faktor-faktor yang berpengaruh terhadap belajar dengan sendirinya juga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Sumardi Suryabrata (1989: 9), mengemukakan secara garis besar bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi empat, yaitu: (1) yang dipelajari, (2) faktor lingkungan, (3) faktor instrumental, (4) dan kondisi individual/ kondisi fisiologis maupun psikologis anak didik.
Di samping itu Masrun dan Sri Mulyani Martaniah (1976: 10), menyatakan bahwa selain metode mengajar, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar anak didik, yaitu (1) kemampuan pembawaan, (2) kondisi psikis, (3) kondisi fisik, (4) kemauan belajar, (5) sikap terhadap guru, pelajar dan sebagainya.
Siti Rahayu Haditomo (1972 : 30), mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut :
1) Faktor Eksogen
Adalah faktor yang berasal dari luar individu. Yang termasuk faktor eksogen antara lain:
a) Orang tua dan keadaan orang tua
Orang tua sebagai pendidik di rumah ikut mempengaruhi belajar anak-anaknya, karena sesibuk apapun orang tua hendaknya menyempatkan diri untuk memperhatikan dan membimbing anak-anaknya dalam belajar.
b) Sekolah
Sekolah merupakan faktor yang sangat penting untuk keberhasilan belajar anak, karena sekolah inilah tempat utama anak belajar. Oleh karena itu situasi dan kondisi sekolah harus benar-benar menunjang kegiatan belajar siswa.
c) Masyarakat dan faktor non sosial
Faktor masyarakat dan non sosial seperti keadaan alam dan perlengkapan belajar juga mempunyai pengaruh yang tidak sedikit terhadap keberhasilan belajar anak. Karena itu perlu diciptkan suasana kehidupan masyarakat yang kondusif terhadap kegiatann belajar anak, di samping itu juga perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.
2) Faktor Endogen
Adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu. Yang termasuk faktor endogen antara lain:
a) Faktor Fisiologis
Yang termasuk dalam faktor ini adalah kondisi fisik anak.
b) Faktor Psikologis
Beberapa faktor psikologis yang penting adalah: minat, bakat, intelegensi, dan motif. Motif seseorang dalam mempelajari sesuatu akan ikut menentukan hasil yang dicapai karena motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga akan lebih baik daripada yang tidak disertai motif. Lebih lanjut Sardiman AM (1999 : 75), menjelaskan bahwa:
Dalam belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar dapat tercapai.
Sedang Ngalim Purwanto (1999 : 72), mengemukakan bahwa dari beberapa definisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu :
i) Menggerakkan, berarti menimbulkan kekuatan pada individu memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
ii) Mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku.
iii) Menjaga atau menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan/ kekuatan individu.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan, motivasi adalah potensi dan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian aktivitas yang menuju pada perubahan tingkah laku seperti yang diharapkan.
2. Minat Melanjutkan Studi Ke SLTA
a. Pengertian Minat
Menurut Ahmad Badawi dkk, (1982 : 2) minat adalah sebagai berikut:
“Minat adalah perhatian terhadap suatu obyek, disertai dengan adanya penilaian, sehingga akan menimbulkan rasa senang atau kecenderungan terhadap obyek itu”.
Sedangkan menurut Amir Hamzah N (1987 : 60) :
“Minat adalah suatu pernyataan psikis yang menunjukkan adanya pemusatan perhatian sesuatu obyek tersebut menarik perhatian”.
Menurut Bimo Walgito (1981 : 38), minat adalah sebagai berikut:
“Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang menaruh perhatian pada sesuatu disertai dengan keinginan untuk mengetahui, mempelajari atau membuktikan lebih lanjut”.
Dengan adanya minat pada seseorang, maka akan mendorong dirinya untuk memperhatikan orang lain, benda-benda, pekerjaan atau kegiatan-kegiatan tertentu. Minat juga menjadi penyebab dari suatu keaktifan dan hasil dari keikutsertaan di dalam keaktifan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa minat adalah, suatu pernyataan psikis yang menimbulkan adanya kekuatan kesadaran pemusatan perhatian, kesiapan melakukan kegiatan belajar dan merasa tertarik terhadap suatu obyek sasarannya yang menjadi obyek kecenderungan atau menjadi penguat dalam melakukan aktifitas atau kegiatan.
b. Macam-Macam Minat
Seperti juga dalam memberikan batasan tentang pengertian minat, para ahli juga mengemukakan macam-macam minat yang ada. Hal ini karena sudut pandang mereka berbeda-beda.
Mufidah (1998 : 12), membagi minat terletak pada masalah aktifitas, yaitu:
1. Minat Ekstrinsik, yaitu perasaan senang yang hubungannya dengan hasil suatu aktifitas.
2. Minat Instrinsik, yaitu minat yang berhubungan dengan aktifitas itu sendiri.
Sedangkan Super dalam Noeng Muhajir (1975 : 6-7), membuat klasifikasi macam-macam minat sebagai berikut:
1. Interest sebagai ekspresi, dimana seseorang menyatakan suka atau tidak suka pada suatu obyek, aktifitas, tugas atau pekerjaan.
2. Interest sebagai suatu manifestasi, ini sinonim dari partisispasi dalam melakukan pekerjaan.
3. Tested Interest, yaitu interest sebagai hasil tes obyektif. Pangkal pendapatnya adalah bahwa interest seseorang berusaha memepelajari atau lebih mengenal suatu obyek.
4. Inventered Interest, esensinya terletak pada penemuan respon dari banyak kemungkinan yang diperoleh bukan estmiasi subyektif sebagaimana exposed interest, melainkan suatu pola interest.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas sulit ditarik garis persamanya, bagi penulis diantaranya pola-pola yang telah dipaparkan imuka lebih cenderung untuk menyetujui pola terakhir yang dikemukakan oleh super, karena pendapat tersebut sejalan denga unsur-unsur yang terkandung dalam definisit minat dimana orang yang berminat pada suatu obyek, aktivitas, pekerjaan, maka orang tersebut bila diungkap akan menyatakan suka terhadap obyek tersebut, ia akan berpartisipasi didalamnya, selalu berusaha untuk lebih mengenal obyek itu lebih dalam dan ia akan berkecimpung didalamnya. Sebaliknya orang yang tidak suka pada obyek tertentu, tidak mau berpartisipasi didalamnya bahkan acuh tak acuh serta tidak ada usaha untuk lebih menganal obyek tersebut.
c. Faktor-Faktor Timbulnya Minat
Masalah timbulnya minat banyak para ahli mengemukakan pendapat antara yang satu dengan yang lainnya berbeda sudut pandangnya sendiri.
Menurut Crow and Crow seperti dikutip oleh Jhon Kills (1988:26), ada tiga faktor yang mendasari timbulnya minat yaitu :
Faktor yang timbul dari diri sendiri, faktor motif sosial dan faktor emosional yang ketiganya mendorong timbulnya minat. Dorongan dari minat melibatkan proses mental pribadi seseorang yang menimbulkan pemusatan perhatian. Sedangkan dorongan sosial dan emosional adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan dalam berhubungan dengan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan afeksi manusia.
Pembangkit minat berasal dari harapan juga perlu diperhatikan karena seperti pendapat Andi Mapiare, (1982: 62), yang mengatakan bahwa, “minat terdiri dari perasaan, harapan-harapan, prasangka atau kecenderungan yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan”
Adapun harapan adalah suatu yang ingin dicapai dari sesuatu yang diminati itu. Kecenderungan merupakan keinginan dan ketertarikan untuk mengikuti sesuatu yang menarik perhatian.
Korelasi minat melanjutkan dengan prestasi belajar siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 4 Rembang Kabupaten Purbalingga Tahun Pelajaran 2008/2009.
Populasi berjumlah 120, sampel penelitian diambil 22 % dan jumlah populasi yaitu sebanyak 40 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan teknik random sampling. Data minat melanjutkan siswa diambil dengan angket, sedangkan data prestasi belajar diambil dan dokumen nilai prestasi belajar semester I. Sebelum diadakan penelitian terlebih dahulu diadakan uji coba instrument terhadap moment, sedangkan koefisien alpha digunakan untuk reliabilitasnya. Untuk Angket Minat Melanjutkan diperoleh reliabilitas sebesar 0,536. Analisis data selanjutnya dengan korelasi parsial jenjang pertama dan regresi ganda dengan dua prediktor.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara minat melanjutkan dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Rembang Kab. Purbalingga Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Mas sip. Lanjut terus. Kapan kapan ke rumahku ya? Nanti bareng konsul ke dosennya !! OK ?
BalasHapus